Batik Lasem: Merah yang Tak Bisa Ditiru Daerah Lain
Diposting oleh Mandalas Editorial Team
Lasem adalah kota kecil di pesisir utara Jawa, di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan ia menghasilkan warna merah yang tak bisa ditiru perajin batik daerah lain. Namanya abang getih pitik — merah darah ayam — dan itulah hal paling termasyhur dari batik Lasem.
Kota ini dijuluki Tiongkok Kecil, dan batiknya adalah contoh paling jelas di Jawa tentang dua budaya yang melebur di atas kain.
Meera Cherry — nada merah pekat yang membuat Lasem termasyhur. Catatan: Mandalas saat ini tidak memproduksi batik Lasem secara khusus.
Merahnya, dan mengapa tak bisa ditiru
Warnanya berasal dari akar pohon mengkudu, dipadukan dengan bahan akar setempat dan — yang paling menentukan — air dari Lasem sendiri, yang kandungan mineralnya disebut sangat penting. Berbagai sumber konsisten menyatakan warna itu tak bisa direproduksi di tempat lain, bahkan tak bisa dibuat ulang di laboratorium.
Resepnya dijaga ketat. Keluarga-keluarga Tionghoa di Lasem hanya mewariskannya kepada anak mereka sendiri, konon lewat sumpah. Kerahasiaan itu berakhir sedih: formula alaminya sebagian besar telah hilang, dan batik Lasem masa kini umumnya memakai pewarna sintetis sebagai gantinya.
Asal-usulnya
Lasem adalah salah satu titik pendaratan paling awal orang Tionghoa di Jawa. Tradisi batik kota ini umumnya dilacak pada Bi Nang Ti (dicatat juga sebagai Na Li Ni), yang dikaitkan dengan kerajaan Champa, dan disebut mengajarkan membatik kepada anak-anak di daerah Kemendung, Lasem, pada awal abad ke-15.
Persentuhan makin dalam sepanjang abad ke-14 dan ke-15, dan pedagang Tionghoa yang menetap di Lasem kemudian menjadi pengusaha batiknya — itulah sebabnya kain ini lama diproduksi keluarga Tionghoa-Indonesia dan banyak dikenakan di lingkungan mereka sendiri.
Kemeja batik premium — menggambarkan nada pesisir yang cerah, keluarga tempat Lasem berada.
Tiga jenis batik Lasem
Para pengkaji umumnya membagi batik Lasem menurut pengaruh budayanya:
Berpengaruh Tionghoa — motif yang diambil dari simbolisme dan ikonografi Tionghoa.
Berpengaruh Jawa — lebih dekat ke tradisi pedalaman, termasuk ornamen kawung dan parang.
Campuran (batik babagan) — perpaduan sungguhan dari keduanya.
Uniknya, kain Lasem kerap dinamai menurut tata warnanya, bukan motifnya — kebalikan dari kelaziman hampir di seluruh Jawa.
Motifnya
Unsur Tionghoa:burung hong (phoenix, fenghuang), naga (liong), ayam hutan, bambu, serta bunga seperti seruni, peoni, magnolia, dan teratai. Benda-benda juga hadir — kipas, koin, dan motif banji, yang dibaca sebagai murah rezeki dan kebahagiaan.
Unsur Jawa dan lokal: Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing, serta Kricak atau Watu Pecah. Motif baru terus bermunculan, di antaranya Latohan, Sekar Jagad Tiga Negeri, dan Gunung Ringgit — ringgit berarti mata uang dan gunung melambangkan kebesaran, yang oleh masyarakat Lasem dimaknai sebagai rezeki segunung.
Naga umumnya dibaca sebagai kekuasaan dan perlindungan; burung hong sebagai sifat baik dan penolak bala. Dalam budaya Tionghoa, merah sendiri bermakna kebahagiaan.
Kebaya encim bordir — tradisi busana Peranakan yang kerap dipadukan dengan kain Lasem.
Perbandingan Lasem
vs sogan (Solo dan Yogyakarta) — Lasem klasik sama sekali tidak memakai cokelat sogan; ia didominasi merah, sementara batik keraton didominasi cokelat.
vs Pekalongan — sama-sama pesisir dan berwarna, tetapi Pekalongan menyerap pengaruh Eropa dan Arab secara luas, sedangkan Lasem secara khusus dan mendalam bernuansa Tionghoa-Jawa.
vs Semarangan — batik Semarang baru dibangun ulang belakangan di seputar identitas kota; Lasem memiliki garis keturunan yang tak terputus dan jauh lebih tua.
Cara mengenalinya
Cari merahnya. Merah pekat yang sedikit hangat dan mendominasi kain adalah petunjuk pertama.
Cari ikonografi Tionghoa — burung hong, naga, peoni, koin — yang digambar dalam idiom batik Jawa.
Perhatikan ketiadaan cokelat sogan. Lasem klasik tidak memakainya.
Harapkan pengerjaan tulis yang halus. Lasem secara tradisional ditulis tangan, bukan dicap.
Satu catatan yang perlu disampaikan: merah alami yang legendaris itu kini sebagian besar tinggal sejarah. Kain masa kini yang dijual sebagai Lasem umumnya diwarnai sintetis — itu tidak membuatnya tidak asli, tetapi berarti kisah warna termasyhur itu melekat pada kain-kain lama.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu batik Lasem?
Batik pesisir Jawa dari Lasem, Rembang, Jawa Tengah, dikenal lewat warna merahnya dan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa.
Apa itu abang getih pitik?
Merah darah ayam, warna khas Lasem, secara tradisional dibuat dari akar mengkudu bersama air setempat yang disebut sangat menentukan.
Mengapa Lasem disebut Tiongkok Kecil?
Karena ia titik pendaratan awal orang Tionghoa di Jawa dan masih memiliki arsitektur Tionghoa, klenteng, serta komunitas yang lama menetap.
Apakah merah tradisionalnya masih bisa dibuat?
Sebagian besar tidak. Resep alaminya dirahasiakan dalam keluarga dan kini banyak yang hilang; produksi modern memakai pewarna sintetis.
Motif apa yang khas?
Burung hong, naga, peoni, seruni, koin, dan banji dari tradisi Tionghoa, bersama Sekar Jagad, Grinsing, dan Watu Pecah dari tradisi setempat.
Apakah batik Lasem ditulis tangan?
Secara tradisional ya — ia dikenal sebagai tradisi tulis yang halus.
Ringkasnya
Lasem adalah hasil dari dua budaya yang berbagi satu pelabuhan kecil selama enam ratus tahun. Merahnya adalah warna paling termasyhur dalam batik Jawa, dan kenyataan bahwa ia kini tak lagi benar-benar bisa dibuat adalah bagian dari kisahnya.
Batik Lasem: Merah yang Tak Bisa Ditiru Daerah Lain
Lasem adalah kota kecil di pesisir utara Jawa, di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan ia menghasilkan warna merah yang tak bisa ditiru perajin batik daerah lain. Namanya abang getih pitik — merah darah ayam — dan itulah hal paling termasyhur dari batik Lasem.
Kota ini dijuluki Tiongkok Kecil, dan batiknya adalah contoh paling jelas di Jawa tentang dua budaya yang melebur di atas kain.
Merahnya, dan mengapa tak bisa ditiru
Warnanya berasal dari akar pohon mengkudu, dipadukan dengan bahan akar setempat dan — yang paling menentukan — air dari Lasem sendiri, yang kandungan mineralnya disebut sangat penting. Berbagai sumber konsisten menyatakan warna itu tak bisa direproduksi di tempat lain, bahkan tak bisa dibuat ulang di laboratorium.
Resepnya dijaga ketat. Keluarga-keluarga Tionghoa di Lasem hanya mewariskannya kepada anak mereka sendiri, konon lewat sumpah. Kerahasiaan itu berakhir sedih: formula alaminya sebagian besar telah hilang, dan batik Lasem masa kini umumnya memakai pewarna sintetis sebagai gantinya.
Asal-usulnya
Lasem adalah salah satu titik pendaratan paling awal orang Tionghoa di Jawa. Tradisi batik kota ini umumnya dilacak pada Bi Nang Ti (dicatat juga sebagai Na Li Ni), yang dikaitkan dengan kerajaan Champa, dan disebut mengajarkan membatik kepada anak-anak di daerah Kemendung, Lasem, pada awal abad ke-15.
Persentuhan makin dalam sepanjang abad ke-14 dan ke-15, dan pedagang Tionghoa yang menetap di Lasem kemudian menjadi pengusaha batiknya — itulah sebabnya kain ini lama diproduksi keluarga Tionghoa-Indonesia dan banyak dikenakan di lingkungan mereka sendiri.
Tiga jenis batik Lasem
Para pengkaji umumnya membagi batik Lasem menurut pengaruh budayanya:
Uniknya, kain Lasem kerap dinamai menurut tata warnanya, bukan motifnya — kebalikan dari kelaziman hampir di seluruh Jawa.
Motifnya
Unsur Tionghoa: burung hong (phoenix, fenghuang), naga (liong), ayam hutan, bambu, serta bunga seperti seruni, peoni, magnolia, dan teratai. Benda-benda juga hadir — kipas, koin, dan motif banji, yang dibaca sebagai murah rezeki dan kebahagiaan.
Unsur Jawa dan lokal: Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing, serta Kricak atau Watu Pecah. Motif baru terus bermunculan, di antaranya Latohan, Sekar Jagad Tiga Negeri, dan Gunung Ringgit — ringgit berarti mata uang dan gunung melambangkan kebesaran, yang oleh masyarakat Lasem dimaknai sebagai rezeki segunung.
Naga umumnya dibaca sebagai kekuasaan dan perlindungan; burung hong sebagai sifat baik dan penolak bala. Dalam budaya Tionghoa, merah sendiri bermakna kebahagiaan.
Perbandingan Lasem
Cara mengenalinya
Satu catatan yang perlu disampaikan: merah alami yang legendaris itu kini sebagian besar tinggal sejarah. Kain masa kini yang dijual sebagai Lasem umumnya diwarnai sintetis — itu tidak membuatnya tidak asli, tetapi berarti kisah warna termasyhur itu melekat pada kain-kain lama.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu batik Lasem?
Batik pesisir Jawa dari Lasem, Rembang, Jawa Tengah, dikenal lewat warna merahnya dan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa.
Apa itu abang getih pitik?
Merah darah ayam, warna khas Lasem, secara tradisional dibuat dari akar mengkudu bersama air setempat yang disebut sangat menentukan.
Mengapa Lasem disebut Tiongkok Kecil?
Karena ia titik pendaratan awal orang Tionghoa di Jawa dan masih memiliki arsitektur Tionghoa, klenteng, serta komunitas yang lama menetap.
Apakah merah tradisionalnya masih bisa dibuat?
Sebagian besar tidak. Resep alaminya dirahasiakan dalam keluarga dan kini banyak yang hilang; produksi modern memakai pewarna sintetis.
Motif apa yang khas?
Burung hong, naga, peoni, seruni, koin, dan banji dari tradisi Tionghoa, bersama Sekar Jagad, Grinsing, dan Watu Pecah dari tradisi setempat.
Apakah batik Lasem ditulis tangan?
Secara tradisional ya — ia dikenal sebagai tradisi tulis yang halus.
Ringkasnya
Lasem adalah hasil dari dua budaya yang berbagi satu pelabuhan kecil selama enam ratus tahun. Merahnya adalah warna paling termasyhur dalam batik Jawa, dan kenyataan bahwa ia kini tak lagi benar-benar bisa dibuat adalah bagian dari kisahnya.
Jelajahi batik pria, atau baca tentang Pekalongan dan sogan untuk melengkapi peta daerahnya.